Sesuai judulnya, it was such an experience back to nature: Baduy Dalam
[5 Mei 2018] Ini adalah kali kedua gw berkunjung ke Baduy Dalam.
Kenapa sampai 2x? You'll know why.
Rute yang ditempuh untuk menuju Baduy Dalam:
- KRL rute Tanah Abang - Rangkasbitung, estimasi 2 jam
- angkot dari Statiun Rangkasbitung menuju Terminal Cibolege (untuk lokasinya bisa klik link ini), estimasi 1 jam
- pendakian, estimasi 5 jam (I'll explain below)
![]() |
Terminal Ciboleger #gwyangjaditukangfoto |
Terminal Ciboleger ini adalah titik awal dimulainya pendakian ke Baduy Dalam. Biasanya, pengunjung akan makan terlebih dahulu disalah satu warung di sekitar terminal sebelum mulai berjalan ke dalam.
Setelah makan siang, rombongan kami mulai berjalan ke dalam.
Pertama, kita akan melalui 3 kampung Baduy Luar, sebelum masuk ke desa Cibeo di Baduy Dalam.
Pintu masuk Baduy Dalam ditandai dengan sungai dan sebuah jembatan. Lewat dari jembatan ini, maka ATURANNYA peralatan elektronik mulai tidak boleh digunakan (kecuali senter untuk penerangan ketika malam). Mulai dari jembatan ini pula kita tidak bisa foto-foto ^^
*gw akan membahas perbedaan Baduy Luar dan Dalam terpisah ya
Bicara soal jarak tempuh, 2x gw menuju Baduy Dalam dan ada perempuan di rombongan (#bukanmenyalahkan) dan jarak tempuhgnya sekitar 5 jam.
Tapi, pemandu gw, mas Ari bilang bahwa sebelumnya dia hanya butuh 2,5 jam untuk tiba di Baduy Dalam, what a surprise!
Baduy Dalam
Gw tiba di Baduy Dalam sekitar jam 6 sore. Setibanya, kita langsung bebersih dengan mandi di sungai yang seger banget. Dan ingat, tidak boleh menggunakan sabun disini!
*jangan lupa tanya lokasi mandi, karena ruas sungai tersebut digunakan untuk 3 keperluan, yaitu sumber air minum, mandi, dan tempat buang air
Setelahnya, kami makan bekal yang sudah disiapkan dari Jakarta oleh mas Ari. Untuk nasi putih, biasa akan dimasak oleh tuan rumah.
Btw, biasanya pemandu akan menghubungi tuan rumah dan mengecek apakah rumahnya dapat ditumpangi. Tuan rumah juga yang akan menjemput rombongan di Terminal Ciboleger dan memandu kita naik ke Baduy Dalam. Dia juga akan membawa beberapa kawannya sebagai porter (kalau ada yang butuh bantuan membawa barang).
Setelah makan, kami mulai ngobrol dengan yang punya rumah, yaitu kang Herman. Kita boleh tanya apapun seputar budaya, adat, kebiasaan, atau bahkan pandangan mereka terhadap hal-hal lain..
*sepintas tentang Baduy Dalam bisa cek disini guys
Biasanya juga, akan ada seorang kakek dari Baduy Luar yang menawarkan pijat (ga gratis yaa). Dan jangan takut kelaparan, karena ada juga warga Baduy Luar yang jualan pop-mie, rokok, kopi, dan lain-lain dihalaman rumah warga Baduy Dalam.
Sesudah ngobrol, kita ke belakang (alias ke sungai) untuk menyelesaikan berbagai urusan, kemudian mulai tidur.
Yang paling gw sukai tiap ke Baduy Dalam adalah "back to nature"-nya yang kental banget. Sebenarnya, sejak di Baduy Luar pun sinyal HP Telkomsel akan mulai menghilang, apalagi di Baduy Dalam. Sehingga pikiran benar-benar bersih dan terlepas dari kepadatan di Jakarta. Selain itu, keramahan warga Baduy dan cara mereka menjaga adat benar-benar membuat gw salut.
[6 Mei 2018] Pagi-pagi, kita mulai sarapan, nge-teh / ngopi, menyelesaikan urusan pagi (you know what), cuci muka di sungai, lalu berberes dan pamit. Biasanya, gw akan beli susu atau makanan kecil dari Jakarta untuk dibagikan ke anaknya tuan rumah.
*mereka suka loh
Setelah berberes, tuan rumah akan menawarkan beberapa souvenir lokal, seperti tas kulit kayu (yang ini unik!!), madu Baduy yang terkenal (katanya banyak yang suka PO/ pre-order dari Jakarta), ikat kepala, atau kain tenun Baduy (ketika di Baduy Luar, kalian akan lihat banyak sekali gadis yang kesehariannya menenun kain).
Gw sarankan kalian untuk beli sesuatu ya untuk mendukung penghidupan mereka!
Setelah selesai semua, mulailah kita turun melalui rute yang berbeda. Di rute ini, kita akan melewati danau besar. Biasanya turun akan lebih cepat dari naiknya dan kali ini, gw cuma menghabiskan waktu 2 jam untuk turun.
Setelah tiba di Terminal Ciboleger, barulah kami makan siang dan mandi beneran dengan sabun. Kemudian, menunggu angkot dan mulai mengarah pulang ke Stasiun Rangkasbitung.
## THE END ##
Another thing I need to tell, awalnya gw sempat ragu untuk ke Baduy Dalam, karena banyak informasi yang menyampaikan bahwa selain bangsa keturunan Indonesia asli, tidak diperbolehkan untuk masuk area Baduy Dalam (salah satu pantangan Desa Baduy Dalam). Gw sendiri keturunan Tionghua, tapi pemandu gw, mas Ari meyakinkan gw bahwa yang tidak boleh masuk adalah yang jelas-jelas berambut pirang atau berkulit Afrika yang jelas-jelas bukan bangsa Indonesia. Dan sebagai WNI, gw ga perlu takut atau ragu untuk masuk.Buat gw, it doesn't really matter what my race is, tapi gw mencoba menghormati budaya lokal dengan:
1) tidak menggunakan sabun/ pasta gigi;
2) tidak memakai HP atau mencoba foto diam-diam di area Baduy Dalam.
For me, it'd matter more ^^
Sedikit hal yang perlu diperhatikan kalau kalian berencana ke Baduy:
- bawa jas hujan/ payung (pengalaman 2x kesana dan 2x kena hujan)
- pakai sandal/ sepatu trekking (beberapa ruas pendakian masih tanah merah yang licin ketika hujan)
- respect their culture! Jangan menggunakan sabun, pasta gigi, atau materi kimia lainnya yang jelas-jelas terlarang bagi suku Baduy Dalam! Jangan maksa foto-foto juga ketika sudah menginjak Baduy Dalam!
![]() |
Tas depan belakang yang pasti tas pengunjung |
![]() |
Kalo di Baduy Luar, jemurannya udah beragam warna kaos :) |