![]() |
Karce yang pemalu -- menemani pendakian kami |
Kami tinggal di rumah Kang Sarta..
Ia tinggal dengan istri dan tiga anaknya, Zarmain, Zarken, dan Zarai; serta mertua perempuannya.
Balok-balok rumahnya terbuat dari bambu, diikat dengan ijuk hitam; atapnya dari jerami. Tak ditemukan sebuah paku pun disana.
Tak ada lampu, TV, dan HP.. ya, tidak ada listrik disana..
Ketika malam datang, maka lilin minyak sayur menjadi satu-satunya penerangan yang ada.
Jika ada cahaya lain, palingan berasal dari kompor kayu bakar yang digunakan untuk memasak di dalam rumah..
Mandi di aliran sungai -- tanpa odol, shampoo, dan sabun..
Mereka menjaga aliran sungai yang digunakan sebagai sumber mata air mereka..
---
Mereka tidak tertarik dengan dunia per-politik-an, karena menurut mereka politik beresiko menimbulkan keberpihakan dan perpecahan dalam kampung mereka..
Baik untuk Baduy dalam maupun Baduy luar, bersekolah formal tidak diperbolehkan.. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Sunda.. Bahasa Indonesia dipelajari melalui interaksi dengan pengunjung yang datang atau jika ada guru relawan yang datang dan mengajar di kampung..
Baik laki-laki dan perempuan bekerja di ladang; ada juga perempuan yang menenun kain..
Perkawinan berdasarkan perjodohan dan hampir tidak ada yang menentang perjodohan tersebut..
---
Bagiku, mereka bukanlah sekelompok orang yang terkekang dengan adat istiadat kental yang menjerat mereka untuk melihat dunia luar..
Mereka main WhatsApp dan Instagram lewat HP yang mereka titipkan di Baduy Luar setiap hendak masuk Baduy Dalam..
Laki-lakinya berjalan menuju Tangerang, Jakarta, Depok, dan berbagai tempat yang mau mereka kunjungi. Mereka pernah makan KFC, McDonalds, dan lainnya..
Mereka tidak dilarang untuk keluar..
Mereka pernah melihat keramaian dan gemerlap "kota"..
Namun, mereka tetap memilih untuk tinggal dan berkomitmen menjaga adat istiadatnya..
Mereka bukan jiwa-jiwa yang menjalankan adat dengan wajah terpaksa dan hatinya memberontak mengharapkan perubahan..
Namun mereka adalah sekelompok kawanan yang menentang perubahan, yang berusaha untuk menghormati dan menjaga warisan nenek moyang..
Sedihnya, upaya mereka tercoreng ketika saya mengunjungi "bilik" buang air dan menemukan bungkusan odol, deodorant, shampoo, dan lainnya.
Maka jika Anda belum siap menaati aturan adat mereka, lebih baik urungkan niat Anda berkunjung kesana.